Memaknai Merdeka Belajar

Oleh: Harnieti (Kepala UPTD SMPN 1 Kecamatan Luak)

Istilah merdeka belajar saat ini tidak asing lagi bagi kita. Terutama pada kalangan dunia pendidikan. Namun sebaiknya kita dapat memahami makna dan maksud dari istilah tersebut. Merdeka belajar bukan berarti murid diberi kebebasan belajar semaunya, tanpa adanya kontrol dari guru.

Akan tetapi bagaimana pembelajaran yang dilaksanakan oleh guru mampu berpihak pada murid. Istilah Merdeka belajar lebih dikenal dalam kurikulum sekolah penggerak.

Saat ini sekitar 2.500 sekolah sesuai telah SK Mendikbudristek nomor 162 Tahun 2021 sebagai pelaksana kurikulum sekolah penggerak.

Konsep merdeka belajar dicetuskan oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia. Konsep merdeka belajar merupakan gagasan Ki Hajar Dewantara. Yaitu, gagasan yang membebaskan guru dan murid menentukan sistem pembelajaran yang bermakna dan menyenangkan.

Ki Hajar Dewantara memandang pendidikan sebagai pendorong bagi perkembangan murid, yaitu pendidikan mengajarkan untuk mencapai perubahan dan kebermanfaatan bagi lingkungan sekitar. (Wikipedia, 2021).

Merdeka belajar dalam arti bahwa sekolah, guru dan murid mempunyai kebebasan dalam berinovasi dan bertindak dalam proses belajar mengajar. Artinya guru tidak bersifat monoton dan memiliki kebebasan melakukan berbagai variasi dalam pembelajaran.

Selain itu penggunaan media pembelajaran yang sesuai dan menarik juga menjadi hal perlu menjadi perhatian bagi guru. Penggunaan teknologi digital juga menjadi hal yang esensial dalam pelaksanaan merrdeka belajar.

Tuntutan zaman saat ini menjadi pemicu pentingnya murid mahir dalam menggunakan tekonologi digital. Era digital yang dikenal dengan revolusi 4.0 saat ini, dimana teknologi telah merambah berbagai sendi kehidupan manusia.

Untuk itu murid harus diantarkan agar selaras dengan perkembangan zaman. Mereka tidak boleh tertinggal dari perkembangan dan kemajuan zaman yang terjadi dengan pesat.

Guru harus mampu membangun suasana yang aman, nyaman dan menyenangkan dalam pembelajaran. Pembelajaran yang menyenangkan adalah pembelajaran yang menggunakan berbagai strategi untuk menciptakan lingkungan belajar yang efektif, dan kondusif.

Pembelajaran dikatakan menyenangkan apabila di dalamnya terdapat suasana rileks, bebas, dari tekanan, aman, menarik, dan bangkitnya minat belajar murid. Serta adanya keterlibatan penuh, perhatian, serta semangat dan kosentrasi tinggi saat belajar. (Darmansyah, 2010).

Dalam merdeka belajar, pelaksanaan pembelajaran tidak selalu harus berada di ruangan kelas. Sesekali guru dapat mengajak murid untuk belajar di luar kelas. Nuansa pembelajaran akan terasa berbeda dan menyenangkan.

Guru dan murid dapat berdiskusi dengan nuansa outing class. Sehingga peran murid lebih ditonjolkan dalam pembelajaran. Mereka dapat lebih santai dalam mengemukankan pendapat dan keaktifan saat pembelajaran berlangsung.

Murid tidak hanya sekadar mendengarkan penjelasan guru. Sehingga akan terlatihlah keterampilan mereka dalam mengemukan pendapat, membentuk karakter bertanggungjawab, berani, mandiri, serta kemampuan mengasah kompetensi dan sebagainya.

Dalam konsep merrdeka belajar ada beberapa tahapan yang harus dilalui antara lain. Pertama, Mulai dari diri sendiri. Dalam pelaksanaannya, murid harus paham tentang kekuatan diri yang dimilikinya. Sehingga mereka dapat mengandalkan kekuatan tersebut dalam menyelesaikan setiap permasalahan yang dihadapinya.

Termasuk dalam mengikuti proses belajar mengajar. Guru harus mampu menggali potensi yang dimiliki setiap murid. Tahapan ini dapat dilakukan dengan mengajak murid merefleksi diri melalui angket atau sejenisnya.

Selain itu juga dengan mengajukan pertanyaan-pertanyaan sesuai dengan konsep yang akan dipelajari untuk menggali pemahaman murid.

Kedua, Eksplorasi konsep. Pada tahap ini murid diajak untuk dapat memahami konsep-konsep materi yang dibahas. Teknik pelaksanaannya dapat melalui penggunaan media yang siapkan guru. Ataupun dengan mengajak mereka membaca dan kemudian berdiskusi tentang konsep-konsep yang telah dipelajarinya.

Guru harus mampu memfasilitasi murid dalam mengkonstruk pemahaman mereka tentang konsep-konsep yang dipelajari. Dalam arti kata mereka tidak hanya sekadar mendengar penjelasan guru. Tetapi juga memiliki kesempatan untuk berpendapat dan mengemukakan pendapat.

Guru juga dapat mengajak murid untuk melacak berbagai sumber yang relevan untuk memperkaya pemahaman mereka.

Ketiga, Ruang kolaborasi. Tahap ini murid diajak berdiskusi. Berkelompok dalam memecahkan permasalahan yang dibahas. Melalui kegiatan ini diharapkan mampu membentuk dan menumbuhkan sikap profil Pelajar Pancasila seperti gotong-royong, kritis, kreatif dan inovatif serta sikap mental baik lainnya.

Keempat, Reflekfi terbimbing. Pada tahapan ini guru dapat memberikan penguatan dan meluruskan pemahaman murid. Tujuannya adalah agar murid tidak salah dalam membangun konsep materi yang dipelajari. Untuk perlu adanya konfirmasi dari guru.

Kelima, Demonstrasi kontekstual. Melalui kegiatan ini murid dapat diberikan kebebasan dalam mengemukan pendapat melalui kegiatan menyajikan hasil diskusi kelompok.

Tujuannya adalah membentuk rasa percaya diri, serta keberanian untuk berpendapat. Selain penguasaan materi, mereka juga akan terlatih dalam berkomunikasi yang baik.

Keenam, Elaborasi pemahaman. Melalui sharing pendapat maka murid diajak dalam membuat dan membentuk pemahaman sendiri, berdasarkan hal-hal yang telah dipelajari. Murid diajak mampu membuat simpulan dan berbagi pengalaman.

Ketujuh, Koneksi antar materi. Kegiatan ini dapat dilaksanakan dengan penugasan yang diberikan guru. Ataupun menggunakan media yang telah disiapkan guru, sehingga kreativitas dan inovasi murid dapat diasah.

Mereka bebas menggambarkan dan mendeskripsikan pemahamannya melalui berbagai cara. Asalkan tidak lari dari konsep yang telah dipelajari.

Murid juga dapat diajak mengaitkan antara satu konsep dengan konsep lainnya. Selain itu meminta mereka membuat peta konsep berdasarkan materi yang telah dipelajari juga menjadi satu hal yang menarik.

Kedelapan, Aksi nyata. Melalui kegiatan ini murid bebas menggambarkan rencana tindakan yang akan mereka lakukan, sesuai dengan konsep-konsep yang telah dipelajari. Menentukan rencana ke depan sesuai dengan tantangan yang ada.

Selain hal yang telah dijelaskan di atas. Pelaksanaan merrdeka belajar juga dapat menerapkan beberapa prinsip lainnya. Guru dan murid dapat membuat kesepakatan bersama, atau kontrak belajar yang harus disepakati. Tujuannya agar pembelajaran dapat terarah sesuai kesepakatan yang telah dibuat bersama.

Apabila tahapan merdeka belajar ini dapat terlaksana dengan baik, maka dapat dipastikan bahwa pembelajaran yang dilakukan akan menyenangkan dan tidak membosankan bagi murid.

Tentu saja dituntut kreativitas guru dalam merencakan, sehingga pelaksanaannya dapat berjalan dengan baik. Murid yang kreatif akan lahir dari guru yang kreatif.

Apabila guru menerpakan konsep merdeka belajar, maka murid akan merdeka dalam mengekspresikan diri dalam belajar sesuai gaya belajar yang dimilikinya. Semoga

Feri Fren

PSP di Zona Pendidikan

Oleh : Feri Fren (Widyaprada Ahli Madya LPMP Sumbar)

Sistem Zonasi pada Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) masih menjadi topik hangat yang diperbincangkan.

Apakah itu oleh masyarakat awam sendiri maupun yang bergelut dalam dunia pendidikan. Jalur sistem zonasi pada PPDB merupakan jalur penerimaan peserta didik baru berdasarkan zona tempat tinggal.

Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) melalui Permendikbud Nomor 44 Tahun 2019 telah memberlakukan jalur penerimaan ini. PPDB dapat diikuti calon peserta didik yang akan masuk pada jenjang TK, SD, SMP, serta SMA/SMK.

Aturan yang telah dibuat tersebut ditandatangani oleh Nadiem Makarim selaku Mendikbud pada tanggal 10 Desember 2019 dan secara resmi mulai diterapkan.

Selain mengetahui persyaratan yang harus dipenuhi dalam sistem zonasi, dampak yang diperoleh dari pemberlakuan sistem ini selalu dikaji. Dampak positifnya sangat banyak sekali.

Seperti, pertama, pemerataan akses pendidikan. Kedua, mendekatkan lingkungan sekolah dengan lingkungan keluarga. Ketiga, menghapuskan eksklusivitas dan diskriminasi.

Keempat, membantu analisis perhitungan kebutuhan guru dan distribusinya. Kelima, mendorong kreativitas guru. Keenam, membantu pemerintah daerah dalam memberikan bantuan.

Dalam implementasinya sistem zonasi tidak mengenal suku, ras, dan budaya, semua anak bisa bersekolah di sekolah yang berada dekat dengan tempat tinggalnya. Tidak peduli apakah sekolah tersebut sekolah unggul atau tidak.

Disamping itu juga ada beberapa sedikit kelemahan yang perlu dikaji, seperti dalam melihat jarak pada geogle map. Keputusan yang diambil.

Kadangkala masih belum melihat tempat tinggal terdekat berdasarkan akses jalan yang dilalui peserta didik untuk pergi ke sekolah. Ada jarak rumah peserta didik dari geogle map terlihat dekat.

Akan tetapi karena dibatasi oleh sungai dan tidak ada akses jalan darat terdekat ke lokasi sekolah. Akhirnya mereka jalan memutar untuk bisa sampai di sekolah. Sementara sekolah yang mudah di jangkau tidak masuk dalam zonasi mereka.

Sebaliknya bagi peserta didik dengan kompetensi rendah ada juga yang memilih mundur dari sekolah tersebut. Karena mereka kurang bisa beradaptasi dan berkompetisi dengan berbagai kegiatan yang diikuti oleh teman-temannya.

Termasuk juga dalam mematuhi tata tertib sekolah.Kadangkala mereka merasa kesulitan dalam belajar sehingga ada yang memilih pindah ke sekolah lain yang lebih bisa membuat mereka santai dalam belajar dan bisa tidak ikut kegiatan apapun di sekolah.

Tugas guru disini adalah agar bisa mengelola kemampuan semua peserta didik tersebut. Apalagi bagi mereka yang memiliki kamampuan rendah dan kurang.

Bagi guru-guru yang selama ini mengajar di “sekolah unggul” yang menghadapi peserta didik yang pintar-pintar saja.

Sekarang tentu harus bisa mengubah paradigma mengajarnya karena di era zonasi. Mereka sudah menghadapi peserta didik yang heterogen dengan beraneka ragam kompetensinya.

Model pembelajaran, pendekatan, strategi, media pembelajaran untuk peserta didik dalam belajar perlu lebih diperhatikan.

Mereka perlu dibimbing, diperhatikan, diberikan motivasi, diikutkan dalam berbagai kegiatan yang diadakan sekolah.

Minat dan bakatnya perlu ditampilkan Dengan demikian harga diri mereka akan bisa terangkat di mata teman-temannya sesuai dengan kompetensi yang dimilikinya.

Kepala sekolah perlu membuat program-program pembimbingan khusus. Dengan pola belajar yang menyenangkan. Agar anak yang kurang pintar dan kurang motivasi tadi bisa berhasil di sekolah yang sebelumnya diberi label “sekolah unggul”.

Di era zonasi, peserta didik perlu diberi perlakuan khusus dan motivasi ekstra sesuai dengan kebutuhan mereka oleh guru dan kepala sekolah.

Bila hal ini kita kaitkan dengan trending topic dalam dunia pendidikan saat ini yakni program merdeka belajar. Pada episode ke tujuh diluncurkan Program Sekolah Penggerak (PSP).

Ciri sekolah penggerak adalah kepala sekolah yang mengerti tentang kepemimpinan pembelajaran. Guru yang berpihak kepada peserta didik. Peserta didik yang berjiwa profil belajar pancasila dan lingkungan yang mendukung proses pembelajaran.

Zonasi boleh dikatakan hampir bersamaan lahirnya dengan pandemi. Dampak pandemi covid-19 juga sangat berpengaruh terhadap daya juang dan fokus belajar peserta didik.

Hal ini terjadi karena berbagai faktor. Baik dari diri peserta didik itu sendiri maupun lingkungan sekitarnya. Oleh karena itu kepala sekolah dan guru perlu membuat inovasi-inovasi baru dalam meningkatkan motivasi peserta didik dalam belajar.

Peserta didik yang kurang pintar atau yang tidak terbiasa dengan budaya “sekolah unggul terkadang sangat sulit mengikutinya banyak faktor sebenarnya yang mempengaruhinya.

Saat proses pembelajaran guru tidak berhadapan langsung dengan peserta didik. Sehingga untuk menanamkan kembali bagaimana cara belajar di sekolah saat pembelajaran tatap muka, disiplin sekolah sudah mulai terasa sulit untuk diterapkan.

Guru agak sulit memberikan motivasi kepada mereka yang selama ini sudah terlanjur santai dalam belajar. Banyak gangguan saat belajar jarak jauh di era pandemi covid 19.

Untuk memulihkannya kembali ke posisi semula perlu dituntut kesabaran guru dalam menghadapinya. Apalagi jika selama ini pengawasan orang tua juga kurang.

Ada juga pengawasan orang tua pada saat pembelajaran jarak jauh yang kurang. Bagi anaknya yang mau belajar ya belajarlah dan bagi yang tidak ya terserah.

Apalagi kalau orang tua peserta didik tersebut sering tidak berada di rumah. Mereka sibuk dengan pekerjaannya masing-masing.

Untuk itu bagi sekolah yang dahulunya di cap sebagai sekolah unggul, di era zonasi ini sangat diperlukan sekali kreatifitasi guru dan kepala sekolahnya agar mutu pendidikan kita bisa terus ditingkatkan.

Semifinal Leg 2 Indonesia vs Singapura

Dinilai Kontroversi, Kemenangan Timnas Atas Singapura Jadi Viral

Tim nasional Indonesia berhasil menumbangkan Singapura, dalam laga leg kedua Piala AFF 2020.

Kemenangan kontroversi Timnas Indonesia menjadi sorotan salah satu media olahraga Amerika Serikat.

Media olahraga Amerika Serikat itu adalah espn, yang berlokasi di wilayah Asia, yakni espnasia.

Sorotan itu diperlihatkan oleh espnasia melalui akun Instagram resminya, beberapa saat usai laga Timnas Indonesia vs Singapura berakhir.

Tonton Video : Indonesia vs Singapura, dari Momen Hingga Meme

“Piala AFF 2020 kembali menghadirkan laga kontroversial dan mendebarkan pada hari Sabtu,” tulis espnasia.

“Tapi Timnas Indonesia menjadi tim pertama yang lolos ke final, usai mengalahkan delapan pemain Singapura!” tambah espnasia

 

Laga Timnas Indonesia vs Singapura sendiri memang berlangsung sangat seru, dengan bumbu kontroversi di dalamnya.
Salah satu kontroversi yang terlihat jelas adalah saat Pratama Arhan menyamakan kedudukan menjadi 2-2. Pemain PSIS Semarang itu terlihat offside, namun hakim garis tidak mengindahkannya dan mengesahkan gol tersebut.

Selain itu, tiga kartu merah yang dikeluarkan oleh wasit Qasim Matar Ali Al-Hatmi kepada Singapura juga menjadi sorotan kontroversi.

Namun, bila ditelaah lebih dalam, tiga kartu merah yang didapatkan Singapura dirasa pantas karena memang benar-benar melakukan pelanggaran yang berlebihan

Seperti yang dialami oleh Safuwan. Dirinya emosi dijaga ketat oleh pemain Timnas Indonesia, Rachmat Irianto, hingga mendorong bek milik Persebaya tersebut.

Tak ayal, Safuwan pun langsung mendapatkan kartu kuning kedua di laga tersebut, dan mengubahnya menjadi kartu merah.

Kemudian ada Irfan Fandi, yang langsung mendapatkan kartu merah usai menyikut Irfan Jaya di menit ke-67.

Terakhir adalah kiper Hassan Sunny, yang juga melakukan pelanggaran berat di luar kotak penalti saat berhadapan dengan Irfan Jaya hingga membuat winger Persebaya itu terpelanting di lapangan.(*)

Harga Migor Masih Mahal di Pasar Tradisional

Padang – Menunaikan tugas pengawasan terhadap jeritan masyarakat yang tercekik atas harga minyak goreng (Migor) Anggota DPR RI Hj Nevi Zuairina seruduk pasar tradisional.

“Saya mau pastikan teriakan saya saat rapat kerja dengan kementerian perdagangan beberapa waktu lalu, ngefek nggak?,” ujar Hj Nevi Zuairina Minggu 26 Desember 2021 di Padang.

Aksi seruduk pasar tradisionil dilakukan wakil rakyat RI dari PKS ke Pasar Nagari Sintuk Padang Pariaman.

“Selain memastikan harga Migor, ibu juga memastikan harga kebutuhan pokok rakyat pada Libur Nataru tahun ini,” ujar Nevi.

Saat dialog dengan pedagang pasar di Nagari Sintuk itu, Hj Nevi memahami keluhan pedagang.

“Kalau Migor harga mulai turun tapi tetap saja masih sulitkan masyarakat. Pedagang tetap menjerit karena anjloknya daya beli,” ujar Nevi.

Nevi mengakui anjloknya daya beli di banyak pasar tradisionil karena dampak Pandemi Covid-19 yang menuju dua tahun.

“Covid-19 berdampak kepada kemerosotan ekonomi sehingga daya beli di banyak pasar tradisionil terkena imbas penurunan,” ujar Nevi.

Hj Nevi berharap pedagang tetap sabar dan mengontrol modalnya. “Insya Allah dengan Protokol Kesehatan dan vaksinasi, pandemi covid-19 segera berakhir dan ekoboni negeri bisa bangkit lagi,” ujar Hj Nevi. (***)

Badan Persiapan Provinsi Daerah Istimewa Minangkabau Datangi DPRD Sumbar

Padang – Badan Persiapan Provinsi Daerah Istimewa Minangkabau (BP2DIM) mendatangi DPRD Sumbar untuk menyampaikan permintaan audiensi kepada DPRD Sumbar. Kehadiran BP2DIM diterima Sekretaris Dewan (Sekwan) DPRD Sumbar, Rafles, SH., MH, Rabu, 27 Oktober 2021.

Ikut mendampingi, Kabag Hukum dan Perundang Undangan, Elvi dan staf Sekwan lainnya. Sementara, pengurus BP2DIM yang hadir, H. Welya Roza, H. Muslim Tawakal dan Radias Dilan.

Suasana pertemuan yang hangat telah menyiratkan sebuah harapan yang sama terhadap masa depan masyarakat Minangkabau dan provinsi Sumbar yang lebih baik dan gemilang.

Dalam pertemuan itu, Sekwan sangat mengapresiasi kedatangan Pengurus BP2DIM. Raflis mengatakan sudah lama menunggu kehadiran Pengurus BP2DIM untuk mengetahui lebih dalam ide seputar perubahan ProvinsI Sumatera Barat menjadi Provinsi Daerah Istimewa Minangkabau (DIM).

Dalam suasana “Badunsanak”, Pengurus BP2DIM juga menyampaikan apresiasi dan ucapan rasa terima kasih yang dalam atas sambutan Sekwan DPRD  dan jajarannya.
Pengurus BP2DIM menjelaskan keberadaan dan perjuangan DIM yang sudah hampir selama 10 tahun, diprakarsai oleh Alm. Dr. Mochtar Naim sebagai tokoh nasional yang sangat mencintai Minangkabau.

BP2DIM telah merampungkan Draft Naskah Akademik dan Draft Undang Undang DIM (NA dan RUU DIM). serta sudah melakukan audiensi
Khusus upaya BP2DIM dalam hal permintaan audiensi kepada Gubernur Sumbar sampai saat ini belum memperoleh jawaban yang diharapkan.

Sebelumnya, pada Mei 2021, Pengurus BP2DIM telah diterima oleh Asisten I Pemprov Sumbar, namun sampai saat ini belum memperoleh jawaban tindak lanjut dari Gubernur Sumbar. Selain kepada Pemerintahan Daerah Provinsi Sumbar dan DPRD Sumbar, BP2DIM juga sudah menyampaikan surat tentang gagasan ProvinsI DIM kepada komponen masyarakat antara lain MUI Sumbar, Lembaga Adat, dan Ormas lainnya.

Berkenaan dengan itu, BP2DIM mengharapkan semua komponen masyarakat Minangkabau di Ranah dan Rantau bahu membahu dalam memperjuangkan DIM di bawah komando Pemerintah Daerah Sumbar dan DPRD Sumbar demi kesiapan masa depan Sumbar dan Minangkabau dalam menghadapi dinamika kehidupan masyarakat nasional dan internasional yang semakin kompleks.

Dalam pertemuan ini, Pengurus BP2DIM mengharapkan agar jadual Audiensi segera diperoleh dari DPRD Sumbar. (Hms)

Petani Bawang dan Pokdarwis Sampaikan Keluhan

Padang Pariaman –  Manfaatkan masa istirahat atau reses persidangan 1, HM. Nurnas mengunjungi Lubuk Nyarai, nagari Salibutan dan petani bawang nagari Singguliang Padang Pariaman.
Di lokasi pariwisata didapatkan berbagai keluhan disampaikan masyarakat, yang disampaikan walinagari.

Diantaranya, dampak pandemi Covid-19, membuat pengunjung menjadi sepi. Sehingga berdampak pada pendapatan masyarakat.
Selain itu, walinagari meminta melalui HM Nurnas agar dibuatkan jalan untuk ojek lebar 1 atau 1,5 meter jalan rabat beton menuju ke lokasi lubuk Nyarai yang sekarang ini masih jalan tanah. Hal ini, untuk memudahkan wisatawan menuju lokasi, yang ramai datang karena keindahannya serta untuk camping dan hiking.

Kelompok sadar wisata Lubuk Nyarai meminta, agar pemerintah menggandeng stakeholder selular membangun tower, agar internet bisa diakses.
“Keinginan masyarakat khususnya Pokdarwis meminta disamping membangun jalan tersebut juga butuh lampu penerangan jalan bisa ditingkatkan. Termasuk internet juga amat dibutuhkan, dengan kebijakan pemerintah menggandeng stakeholder selular,”
“Kita merespon hal ini tentu akan diperjuangkan dan disampaikan agar perekonomian masyarakat tumbuh, ulas Nurnas.

Ditambahkannya, akses jalan menuju ke lokasi. Terutama daerah Sikayan juga sudah terjadi kerusakan robohnya turab penahan tebing Sungai yang sudah sangat lama tidak ada perhatian dari Balai Sungai.
Ini perlu gerak cepat pemerintah khususnya Balai Sungai, agar segera memperbaiki, sehingga tidak terjadi akses jalan putus.
“Meskipun daerah ini tersuruk, namun memiliki keindahan alam yang luar biasa, ada lubuk, goa dan lain sebagainya, dengan adanya lokasi wisata ini maka ilegal logging menjadi habis, tingkat kenakalan remaja juga jauh berkurang, maka perlu adanya perhatian khusus, sehingga pendapatan masyarakat melalui pariwisata dapat ditingkatkan, ini merupakan kunjungan saya kedua, dan akses jalan menjadi fokus saat ini,” ungkap Nurnas.
Ditegaskan Nurnas, ketika stadium utama nanti selesai, maka akses jalan bukan lagi hal yang harus ditunda. Agar segera dilakukan pembangunan atau perbaikannya oleh pemerintah.

“Meskipun daerah tersebut belum ada home stay, namun saat ini masyarakat sudah membuat beberapa pos. Namun sudah banyak yang perlu diperbaiki, dan masyarakat menginginkan daerah ini menjadi Desa wisata,” tambah Nurnas lagi.

Usai mengunjugi daerah wisata Lubuk Nyarai Nagari Salibutan, HM. Nurnas yang merupakan sekretaris komisi 1 dari fraksi Partai Demokrat dari Dapil 2, mengunjungi Nagari Singguliang Kec. Lubuk Alung perkumpul dengan petani bawang.
Ketika mengunjungi Singguliang, Nurnas mendapatkan bagusnya irigasi, hamparan sawah cukup luas, aspirasi dari masyarakat, membutuhkan combaine, dan peralatan lainnya untuk meningkatkan hasil pertanian.

Masyarakat juga meminta solusi untuk menstabilkan harga pupuk, sehingga dapat terjangkau masyarakat, karena subsidi pupuk sudah dihapuskan, dan panen sekarang berkurang karena diserang wereng.

Selain itu, dengan irigasi Sekunder bagus akan tetapi juga perlu pembuatan dan perbaikan irigasi banda sawah, termasuk juga jalan tani untuk mengangkat benih, pupuk dan hasil pertanian, saat ini jalan tersebut belum ada.

Ada keunikan di nagari Singguliang, kelompok Tani Harapan Jaya dengan ketua kelompoknya Yusuf, wali korong Singguling 2 sdr. Fiski Pernando, mereka ini bertanam bawang yang sudah cukup lama, padahal daerah ini tidak pernah tahu oleh orang luar ada petani bawang.

Bawang yang ditanam masyarakat Singguliang, bibitnya berasal dari Brebes, dan hasil mereka jauh lebih tinggi dari derah lain, dengan perbandingan bibit 100 kg , menghasilkan 1,2 Ton ada yang lebih, sementara daerah lainnya hanya bisa menghasilkan 1 Ton dengan jumlah bibit sama.

Petani bawang Singguliang juga memakai pupuk anorganik, dengan perbandingan 70:30, artinya kimiawinya lebih sedikit.

Masyarakat ingin agar Nurnas bisa membawa kepala dinas pertanian dan Dinas lainnya ke lokasi mereka, agar tahu kalau hasil produksi mereka jauh lebih baik, dengan kadar air lebih rendah dibanding bawang lainnya.

“Para petani bawang berharap agar stabilisasi harga terjamin, dengan ikut sertanya dinas pertanian dalam memasarkan dan membantu stabilisasi harga,” ulas Nurnas.

Ditambahkannya, kalau daerah lain bercocok tanam sampai panen berkisar 60 – 100 hari, namun di Singguliang bisa panen 55 – 65 hari, dengan kualitas terbaik, bertanam bawang telah dimulai kembali sejak tahun 2017 yang sudah lama terhenti.

“Mereka juga sangat butuh peralatab cultivator paket 8, sehingga bisa lebih cepat para petani melakukan aktifitas dan tidak ada lagi yang manual dan produksi bisa lebih ditingkatkan,” tambah Nurnas.

Pada saat itu, HM. Nurnas berjanji akan menyampaikan aspirasi masyarakat pada pihak pemerintah dan akan merealisasikan bantuan pada 2022 dilanjutkan pada 2023.

“Dengan program unggulan gubernur di pertanian, mestinya lebih konsens untuk peningkatan pertanian, dinas harus saling terintegrasi, karena pertanian butuh air melalui irigasi yang merupakan kewenangan PSDA, dan juga dinas ini mestinya berkordinasi dengan balai sungai, dan untuk ini dirasakan sangat lemah tetmaduk pengawasannya,” tegas Nurnas.

Dalam hal perbaikan irigasi kabupaten Padang Pariaman memang tidak mampu, maka pemerintah provinsi harus melakukan bantuan, kan bisa dalam Bantuan Keuangan Khusus.

Diakhir pertemuan Nurnas juga meminta agar masyarakat jangan takut melakukan vaksin, sehingga pandemi bisa berakhir, agar perekonomian berjalan lancar kembali, dan Masyarakat kembali bergairah.

“Kita Padang Pariaman termasuk diperingkat bawah dalam hal vaksin, maka saya menghimbau agar segera vaksin, saat ini pihak TNI khususnya Lantamal  dan Polri sudah melakukan secara rutin, mari bersama kita ikut, jangan takut, agar pandemi lebih cepat teratasi,” himbau Nurnas mengakhiri. (Salih)

Sumbar Tambah Perunggu Melalui Marstio

SPIRITSUMBAR.com, Jayapura – Taekwondoin Sumatera Barat yang turun di Kyurogi kelas 58 Kg putra, Marstio Embrian Hidayatullah menambah pundi-pundi medali kontingan Ranahminang di Pekan Olahraga Nasional (PON) XX- 2021 Papua.

Pada hari pertama pertandingan Cabor Taekwondo yang dipusatkan di GOR Politeknik Penerbangan Kayu Batu, Kota Jayapura, Jumat (1/10) pagi, dua Taekwondoin Sumbar langsung bertanding.

Selain Marstio, juga tampil Ridho Putra Hari di kelas 87 Kg putra. Hanya saja pada babak delapan besar, Rido dikalahkan Taekwondoin asal Jateng dengan skor mencolok.

Tampil militan di babak delapan besar dengan mengalahkan Taekwondoin tuan rumah tuan Rumah, Cristian Ronaldo Korwa, Marstio tampil mendominasi dengan kemenangan telak, 41-16.

Namun pada pertandingan kedua yang digelar pada siang harinya menghadapi Taekwondoin asal Jambi, Farel Patra Syaifullah, Marstio gagal mempertahankan performa terbaiknya.

Hal ini tak terlepas dari cedera di bagian kaki yang diderita sejak awal pertandingan. Duel semifinal terpaksa dihentikan di babak ketiga pada skor 25-20.

Dengan kekalahan ini Marstio Embrian Hidayatullah berhak mendapatkan medali perunggu.

Manager tim Taekwondo Sumbar Budi Ilyas mengatakan, sejak awal duel Marstio menghadapi Farel berjalan sangat ketat.

Taekwondoin Sumbar sempat memimpin di awal pertandingan. Namun perubahan taktik di kubu lawan serta cedera diderita Marstio, memaksa tim pelatih menghentikan duel di babak ketiga.

“Kita memutuskan untuk menarik Marstio di babak ketiga. Upaya ini dilakukan untuk menghindari cedera yang lebih serius,” ungkap Budi Ilyas.

Budi mengatakan, kans medali, termasuk medali emas masih terbuka untuk Sumbar. Salah satunya melalui Taekwondoin putri, Delva Riski yang pada PON Jabar 2016 lalu menyabet medali emas. (Humas dan IT KONI Sumbar)

Masjid Al Quwait Kerjasama RGB Salurkan 2 Ribu Buku dan 100 Tas untuk Anak Yatim

MARWAHSUMBAR.com, Padang – Sebanyak 2 ribu eksemplar buku tulis dan 100 tas disalurkan pada anak yatim dan dhuafa dalam Program Jumat Berkah Berbagi (JBB) di Masjid Al Quwait, Kelurahan Banuaran Nan XX, Kecamatan Lubuak Bagaluang, Kota Padang, Sumatera Barat, Jumat, 1 Oktober 2021.

Penyaluran bantuan dalam program JBB Pekan 27 hasil Kerjasama Masjid Al Quwait dengan Rumah Gadang Basamo (RGB) Alumni SMA 1 Padang Tamatan 1987 ini tampil agak beda. Santunan yang diberikan bukan dalam bentuk uang, tapi kebutuhan perlengkapan sekolah.

Koordinator JBB, Herwaty Taher mengatakan bantuan yang diserahkan kali ini dalam rangka menghadapi Pembelajaran Tatap Muka (PTM) yang akan berlangsung pekan depan. “Kota Padang akan kembali melaksanakan PTM setelah 2 tahun daring. Maka, anak anak butuh tas dan perlengkapan belajar lainnya,” ujar Herwaty Taher yang juga menjabat Seksi Humas Pengurus Masjid Al Quwait.

Herwaty mengungkapkan buku sebanyak 2 ribu eksemplar (100 kodi) berasal dari beberapa orang rekan rekan RGB Alumni SMA 1 Padang tamatan 1987. “Sedangkan 100 tas ditanggung oleh satu orang anggota RGB. Kita berharap juga ada donatur sepatu dan pakaian bagi anak anak kita ini, ” ujarnya.

Sementara Ketua Masjid Al Quwait, Saribulih menjelaskan program ini makin mendapat simpati dari berbagai kalangan. Bahkan, pada setiap pekan ada ada saja yang ingin memberikan bantuan. Baik berupa makanan ringan, nasi dan natura lainnya.

Bahkan ujarnya, bantuan tidak lagi sekedar santunan untuk Anak Yatim saja. “Kita juga menyalurkan bantuan untuk dhuafa. Dengan menggandeng lembaga sosial, seperti Jaringan Pemred Sumbar, Dompet Dhuafa Singgalang, Laznas Rumah Yatim dan beberapa lembaga lainnya. Bahkan pada Jumat kemaren, sudah disalurkan bantuan sembako untuk 2 keluarga dhuafa dari Dompet Dhuafa Singgalang,” ujar Saribulih yang juga praktisi pendidikan ini.

Dia menambahkan, penyerahan bantuan 2000 buku dan 100 tas ini dilakukan 2 tahap.” Hari ini untuk 50 anak dan sisanya pada JBB pekan ke 28 yang akan dilaksanakan Jumat Depan. Alhamdulillah, Pak Ketua RW 11 akan menjadi donatur nasi untuk JBB pekan depan,” ujarnya.

Penyerahan bantuan kelengkapan sekolah ini, juga mendapat apresiasi dari tokoh masyarakat Banuaran, H. Hudi Sutomo. Dia berharap bantuan ini makin memacu semangat penerima dalam belajar.

“Harus disyukuri dan kepedulian para donatur ini menjadi pemicu dalam belajar. Selalu tingkatkan prestasi demi menggapai cita cita,” ujar Hudi Sutomo yang juga Ketua RW 11 Kelurahan Banuaran ini.

Camat Lubuak Bagaluang yang diwakili Kasi Kesejahteraan Sosial dan Pemberdayaan Masyarakat Kecamatan Lubuak Bagaluang Yona Kartika merasa mendapat pelajaran dari program rutin Jumat Berkah Berbagi ini. Menurutnya, ini menjadi cambuk sekaligus pelajaran bagi kecamatan. “Kami baru bisa menyantuni 30 anak yatim. Itupun dilakukan baru satu kali. Kita akan sampaikan pada Pak Camat, ini harus mampu dilakukan pula pada tingkat kecamatan,” ujarnya.

Menurutnya, program ini harus tetap berlanjut. Apalagi, kondisi ekonomi masyarakat yang masih terpuruk akibat pandemi covid-19.” Ini akan mampu meringankan beban ekonomi anak yatim dan dhuafa. Semoga, para donatur makin peduli dan jumlahnya semakin bertambah,” ujarnya. (Rel)